Think before you speak. Read before you think

Breaking News

Seks...oh ...Seks...

Ternyata masih banyak dari kita memiliki pandangan bahwa pendidikan seks bagi remaja belum diperlukan. Padahal di usia remaja rasa ingin tahu tentang seks sedang menggebu-gebu. Apalagi materi tulisan, gambar, film dan sebagainya yang menjurus ke arah porno begitu banyak beredar di berbagia media.

Untuk memenuhi rasa penasarannya maka banyak remaja yang justru mencari informasi lewat sumber yang salah.

Film dan iklan adalah dua hal utama yang menurut saya paling banyak berpengaruh pada kesesatan berpikir para pencari identitas itu. Unsur sensasional dan dramatis dalam film dan iklan justru sering dianggap sebagai hal yang natural dan semestinya.

Sayangnya banyak pihak yang justru memanfaatkan ketidak-tahuan para remaja ini untuk mendapatkan keuntungan. Para pemodal tidak peduli pada dampak sosial dari film atau iklannya. Yang penting adalah untung dan untung. Apalagi jika pemodal itu adalah orang asing...Biar saja bangsa ini jadi mesum semua. Asalkan saya dapat untung besar...

Hwarakadah...!!!



==============================================================

5 Kebohongan Seks

kompas.com
Kamis, 10 Januari 2008 | 19:48 WIB

Cerdas secara seksual berarti Anda berani bersikap kritis dengan menolak kebohongan yang sering dilontarkan seputar hubungan seksual. Berikut ini beberapa kebohongan seks yang biasa ditemui para remaja dan anak muda yang masih belajar tentang arti cinta dan seks menurut Paulus Subiyanto, konsultan pemberdayaan relasi suami-istri.

1. Seks Sebagai Bukti Cinta
Gadis-gadis muda biasanya ditipu agar menyerahkan dirinya untuk melakukan hubungan seks pranikah dengan alasan cinta. Di sisi lain, si gadis yang masih hijau ini jadi merasa geer, karena menganggap dirinya diinginkan. Padahal, cinta tidak bisa dibuktikan lewat hubungan seks. Seks hanya mengungkapkan cinta sejauh ada komitmen dan tanggung jawab. Di luar itu, tak ada jaminan apa-apa.

2. Seks untuk Merasa Mampu
Tidak sedikit remaja pria merasa bahwa dengan berhubungan seks dirinya mampu. Semakin banyak melakukan seks, semakin hebat. Padahal, peningkatan harga diri seperti itu tidak ada artinya, bahkan menjerumuskan kepada kesia-siaan. Bisa jadi membawa malapetaka, dengan munculnya penyakit kelamin atau merasa makin tak berharga.

Tidak dipungkiri bahwa manusia memiliki kebutuhan untuk diakui. Namun, pengakuan itu muncul dari kualitas pribadi yang dibangun lewat banyak hal. Kalau Anda mau menggali diri, setidaknya ada satu hal positif yang bisa dibanggakan dan membuat Anda merasa berharga serta berguna. Hal itulah yang sebaiknya dikembangkan.

3. Seks Harus Dicoba
Ada kalangan remaja dan kaum muda yang menganggap bahwa seks sama dengan keterampilan atau alat yang perlu dicoba sebelum digunakan secara terus-menerus.
Tentu saja, anggapan semacam itu sangat merendahkan seksualitas manusia. Seks pada dasarnya adalah insting setiap makhluk hidup. Dengan mudah akan bisa dilakukan tanpa perlu dipelajari lebih dahulu. Justru yang perlu dicoba dan diuji adalah komitmen dan tanggung jawab.

4. Seks Memperkokoh Hubungan
Sebagian orang menilai bahwa dinamika kehidupan rumah tangga atau hubungan antarpasangan akan mandek tanpa seks. Sayang, pendapat ini tidak benar. Seks memang penting, tetapi bukan segala-galanya dalam sebuah hubungan. Mungkin ada pasangan yang pisah atau cerai hanya karena suaminya tidak bisa lagi memenuhi kebutuhan biologisnya. Sikap ini tentu saja mereduksi arti pentingnya cinta dan relasi.

5. Seks Mendewasakan
Di sebagian kalangan remaja dan kaum muda pernah muncul semacam prinsip yang menyebutkan bahwa dengan berhubungan seks, orang semakin dewasa. Kaum muda usia ini lalu berlomba-lomba melakukan uji coba, berkelana, dan menikmati seks tanpa komitmen.

Jelas, kedewasaan diri tidak ditentukan oleh apakah seseorang sudah berhubungan seks atau belum. Atau apakah seseorang banyak berhubungan seks atau tidak.Kedewasaan seseorang ditentukan oleh banyak hal. Kualitas pribadi yang menentukan apakah seseorang bisa disebut dewasa, misalnya berani bertanggung jawab.

ABD

2 komentar

Anonim mengatakan...

Om, menurut saya sih mesum nggak-nya bangsa ini bukan karena iklan or sinetron or film yg mesum. Tapi gimana kita "ajarin" org' di sekitar kita supaya nggak mesum, misalnya nggak usah ada tag/label "seks/sex" di dalam blog kita...itu kan mancing" juga... hahaha.

Syahdan, di Arab sana tuh dulu -mungkin juga sampai sekarang ini- itu mesum banget, namanya aja jahiliyah. Setelah Nabi Muhammad ditugaskan sebagai Rasul, beliau tidak memberantas yg mesum" itu, tapi me"ngajarkan" kepada kaumnya mana yg baik, mana yg buruk, mana yg boleh dan mana yg nggak boleh.

So cuekin aja tuh yg mesum", nanti juga punah sendiri....at least didalam rumah kita sendiri.

So jgn nyimpen film/gambar/3gp yg mesum/porno dirumah ya Omm.. supaya Mas Jaka nggak sengaja nemuin/liat...

:)

Anonim mengatakan...

Akhirnya Kenzie ninggalin jejak juga di sini...Thanks yaa...

Memang benar, pendidikan dimulai dari dalam rumah masing-masing. Bukan cuma soal seks tapi termasuk yang lainnya. Ayah Jaka cuma mau menunjukkan faktor lain yang juga tidak kalah signifikan.

Beruntung Kenzie punya Mama yang selalu stand by menjaga anak-anaknya. Kalau Jaka kan Ayah-Ibunya kerja seharian. Jadi kurang waktu buat Jaka. Do'ain Ibunya Jaka bisa ngikutin Mama Kenzie yaa...

(Koleksi 3gp dll udah disave di dalam otak bosss...!hua...ha...ha...)