03 Februari 2012

AT Mahmud, Maestro Lagu Anak-Anak

AT Mahmud, Pencipta Lagu Anak-anak
Pencipta lagu anak-anak Abdullah Totong Mahmud yang dikenal dengan nama AT Mahmud ini menerima Tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma dari pemerintah RI. Ia dinilai berjasa dalam mengembangkan dan meningkatkan sumber daya bangsa dalam menciptakan lagu untuk anak-anak yang dapat membantu pertumbuhan dan perkembangan kepribadian anak.

Penerima Piagam hadiah seni dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini memang telah menciptakan sekitar 500 judul lagu anak-anak. Lagu-lagu ciptaannya antara lain Ameia, Cicak, Pelangi, Bintang Kejora, dan Ambilkan Bulan, sangat terkenal dan baik untuk anak-anak. Semua lagu ciptaannya mengandung unsur edukasi yang sangat bermanfaat bagi perkembangan kecerdasan dan kepribadian anak-anak.

Maka melihat perkembangan lagu anak-anak sekarang ini, ia sangat prihatin. Keprihatinan ini dikemukakannya saat wawancara dengan Wartawan TokohIndonesia DotCom di rumah kediamannya, Jalan Tebet Barat II Jakarta, Senin 8 September 2003.

Menurutnya, banyak sekali lagu yang dinyanyikan anak-anak bukan lagu anak melainkan lagu orang dewasa dengan pikiran dan kemauan orang dewasa. Anak-anak hanya menyanyikan saja. Tanpa pemahaman dan penghayatan akan isi lagu. AT Mahmud mencontohkan dua lagu yaitu “Aku Cinta Rupiah” dan “Mister Bush”.

“Anak kecil mana tahu nilai rupiah atau dolar atau ringgit dan mata uang lainnya. Mereka juga tidak begitu kenal dan hirau dengan George Bush Junior yang melakukan invasi ke Iraq. Mereka belum memikirkan hal itu. Semua itu adalah pikiran dan kemauan orang dewasa yang dipaksa disuarakan anak-anak,” paparnya.

Menurut Mahmud, lagu anak-anak hendaknya mengungkapkan kegembiraan, kasih sayang, dan memiliki nilai pendidikan yang sesuai dengan tingkat perkembangan psikologis anak. Bahasa dalam lagu anak pun harus menggunakan kosakata yang akrab di telinga anak.

Siapa sebenarnya AT Mahmud? Apakah dia sejak muda mempersiapkan diri menjadi pencipta lagu anak dan melulu mengurusi soal lagu anak?

AT Mahmud lahir di Palembang, Kampung 5 Ulu Kedukan Anyar, 3 Februari 1930. Ia anak kelima dari sepuluh bersaudara. Ibu bernama Masayu Aisyah, ayah bernama Masagus Mahmud. Ia diberi nama Abdullah dan sehari-hari dipanggil “Dola”. Namun, sebutan nama Abdullah atau Dola kemudian “menghilang”. Nama pemberian orang tua tercatat terakhir pada ijazah yang dimilikinya pada sekolah Sjoeritsoe Mizoeho Gakoe-en (sekolah Jepang) tahun 1945.

Pada ijazah itu nama lengkapnya tertulis: Mgs (Masagus) Abdu'llah Mahmoed. Di rumah, kampung, dan teman sekolah, ia lebih dikenal dengan nama Totong. Pada surat ijazah Sekolah Menengah Umum Bagian Pertama (setingkat SLTP) tahun 1950, namanya tertulis Totong Machmud. Konon menurut cerita ibunya, ketika dirinya masih bayi ada keluarga Sunda, tetangganya, sering menggendong dan menimangnya sambil berucap, “... tong! ...otong!” Sang Ibu mendengarnya seperti bunyi “totong”. Sejak itu, entah mengapa, ibunya memanggilnya dengan “Totong”. Nama ini diterima di lingkungan keluarga dan kerabat. Nama lengkapnya kemudian menjadi Abdullah Totong Mahmud, disingkat A. T. Mahmud.
Yayat Sudrajat - Yusak (Sebagian diterbitkan di Majalah Tokoh Indonesia EEdisi 05)
Sumber; TokohIndonesia.Com (Ensiklopedi Tokoh Indonesia),

Nama:
Abdullah Totong Mahmud

Nama Terkenal:
A. T. Mahmud

Lahir:
Palembang. 3 Februari 1930

Meninggal:
Jakarta, 6 Juli 2010

Agama:
Islam

Pekerjaan:
Pencipta Lagu Anak-anak
Pensiunan Pengawas Kantor Wilayah Depdikbud DKI Jakarta

Isteri:
Mulyani Sumarman (Lahir Sambu. 26 Februari 1934, menikah di Surabaya, 2 Februari 1958)

Anak:
1. Ruri Mahmud, (SE) (L) Jakarta 23 Februari 1959
2. Rika Vitrina, SH (P) Jakarta 1 Oktober 1960
3. Revina Ayu, SE (P) Jakarta 13 April 1974

Ayah:
Masagus Mahmud

Ibu:
Masayu Aisyah

Pendidikan Formal:
HIS/SD 1944
SMU Bag. Pertama (SMP) 1950
SGA 1953
BI Bahasa Inggeris 1959 FKIP Sarjana Muda Diploma 1964

Pendidikan Informal:
The Teaching of English As a Foreign Language (Australia) Des.1961 sd. Des. 1962 PATA (Jakarta) Nov. sd. Desember 1979
SPAFA "Further development Trainor Teachers of the Arts in Schools" (Workshop, Filipina ) Mei 1985

Bidang Karya:
Pencipta lagu anak-anak untuk anak usia Pendidikan Dasar.

Buku Pelajaran Musik:
Anggota tim penulis Buku Musik 1,2,3, dan 4 untuk SPG tahun Proyek 1973/74,1974/75.
Anggota tim penulis Buku Seni Musik untuk PGSMTP Proyek Pembinaan tahun 1982/83.
Anggota tim penulis Buku Seni Musik untuk KPG Proyek Pembinaan KPG/PGSMTP
1982/83.
Penulis Musik dan Anak atas permintaan Proyek Pembinaan dan Peningkatan Mutu Tenaga Kependidikan 1994/95 Direktorat Jenderal Pendidikan Departemen P dan K.

Penghargaan:
Menerima Piagam Hadiah Seni atas Keputusan Presiden Republik Indonesia melalui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI yang diserahkan pada tanggal 11 Oktober 1999.
Anugerah Pendidikan Seni oleh Rektor Universitas Negeri Jakarta tanggal 27 Juni 2003 pada Dies Natalis Universitas Negeri Jakarta ke-39.
Merima Tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma dari Presiden Megawati Soekarnoputri pada tanggal 14 Agustus 2003.

Alamat:
Jalan Tebet Barat llA No.18
Jakarta Selatan 12810
Telepon 021-8296113

[+/-] Selengkapnya...

16 Januari 2012

Wasiat Suami tuk Wanita Selingkuh

Hadi hampir meninggal... Di sebelahnya Imah, isterinya yang matere, sexy dan doyan selingkuh, sedang menemani Hadi...

Hadi : "Imah.. sebelum aku mati nanti.. aku ingin berpesan padamu.."

Isteri : "Iya, bang.. apa pesan abang.."

Hadi : "Aku mau kau kawin dengan Harun... "

Isteri : "Uugh.. abang nie.. kan Harun tu musuh berat abang selama ini?! Apa abang rela menyerahkan saya kepadanya..? "

Hadi : "Aku ingin dia menderita seperti yang aku alami 30 tahun bersamamu.."

Isteri : " ...... "

[+/-] Selengkapnya...

19 Desember 2011

Do'a

Kata orang tua : Balas org yg jahatin kamu dgn DOA

Doa ku : Ya Tuhan, ampunilah org yg menjahati saya, krn sesungguhnya dia tdk sadar akan perbuatannya Semoga dia di ampuni dan masuk surga
Klo bisa sekarang aja, jgn lama2....

[+/-] Selengkapnya...

08 Desember 2011

Munir, Si Pahlawan Orang Hilang

Munir
Mantan Koordinator Kontras (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan) ini pantas dijuluki sebagai pahlawan orang hilang. Dia seorang pejuang HAM sejati yang gigih dan berani. Keberaniannya jauh melampaui sosok pisiknya yang kerempeng. Namun, sayang, Direktur Eksekutif Lembaga Pemantau Hak Asasi Manusia Indonesia Imparsial kelahiran Malang 8 Desember 1965 ini, wafat dalam usia relatif muda, 39 tahun, dalam penerbangan menuju Amsterdam, 7 September 2004.


Pada 6 September 2004, isterinya Suciwati dan anaknya Soultan Alif Allend melepas Munir menuju Amsterdam (Belanda) untuk melanjutkan studi program master (S2) di Universitas Utrecht, Belanda. Alumni Fakultas Hukum Universitas Brawijaya ini, sekitar pukul 21.55 WIB, naik Garuda Indonesia GA-974 menuju Singapura untuk kemudian transit terbang ke Amsterdam. Tiba di Singapura pukul 00.40 waktu Singapura, kemudian pukul pukul 01.50 waktu Singapura take off menuju Amsterdam.

Menurut sumber Tokoh Indonesia di PT Garuda Indonesia, tiga jam setelah pesawat GA-974 take off dari Singapura, supervisor awak kabin bernama Najib melaporkan kepada pilot Pantun Matondang bahwa seorang penumpang bernama Munir yang duduk di kursi nomor 40 G menderita sakit. Munir bolak balik ke toilet. Pilot meminta Najib terus memonitor kondisi Munir. Munir pun dipindahkan duduk di sebelah seorang penumpang yang kebetulan berprofesi dokter yang juga berusaha menolongnya. Penerbangan menuju Amsterdam menempuh waktu 12 jam. Namun dua jam sebelum mendarat 7 September 2004, pukul 08.10 waktu Amsterdam di bandara Schipol Amsterdam, saat diperiksa, Munir telah meninggal dunia.

Pejuang hak asasi manusia (HAM) itu, pergi untuk selama-lamanya. Bangsa ini kehilangan seorang tokoh muda yang dikenal gigih membela kebenaran sejak Pak Harto masih berkuasa. Kematian pendiri Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), itu pun segera mendapat perhatian amat luas di Indonesia. Banyak SMS dan telepon ke berbagai media menanyakan kebenaran berita duka itu.

Sejumlah orang terkejut dan bersedih. Mereka berdatangan ke rumah almarhum yang tampak sederhana di Jalan Cendana XII No.12 Jakasampurna Permai, Bekasi Barat. Di antaranya, para aktivis LSM, Munarman (YLBHI), dan Smita Notosusanto (Cetro) serta para keluarga korban pelanggaran HAM Semanggi I-II, Trisakti, Mei 98, dan Tanjung Priok.

Pejuang HAM yang sempat bekerja di sebuah perusahaan persewaan soud system dan menjual alat-alat elktronik, itu sejak mahasiswa terkenal keras hati. Sebelum menyelesaikan studinya di FH Universitas Brawidjaja (1990) sudah aktif sebagai sukarelawan LBH Surabaya (1989). Kemudian menjadi anggota LBH dan menjabat Ketua LBH Surabaya Pos Malang (1991). Lalu menjabat Koordinator Divisi Pembunuhan dan Divisi Hak Sipil Politik LBH Surabaya (1992-1993) dan Kepala Bidang Operasional LBH Surabaya (1993-1995.

Sebelum hijrah ke Jakarta menjabat Sekretaris Bidang Operasional YLBHI (1996), dia lebih dulu menjabat Direktur LBH Semarang (1996). Kemudian di YLBHI dia menjabat Wakil Ketua Bidang Operasional (1997) dan Wakil Ketua Dewan Pengurus YLBHI (1998). Sampai kemudian dia mendirikan dan menjabat Koordinator Badan Pekerja Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) (16 April 1998-2001) dan Ketua Dewan Pengurus Kontras (2001).

Saat menjabat Koordinator Kontras namanya melambung sebagai seorang pejuang bagi orang-orang hilang yang diculik pada masa itu. Ketika itu dia membela para aktivis yang menjadi korban penculikan Tim Mawar dari Kopassus. Setelah Pak Harto jatuh, penculikan itu menjadi alasan pencopotan Danjen Kopassus (waktu itu) Prabowo Subianto dan diadilinya para anggota tim Mawar.

Dia pun memperoleh The Right Livelihood Award di Swedia (2000) sebuah penghargaan prestisius yang disebut sebagai Nobel alternatif. Sebelumnya, Majalah Asiaweek (Oktober 1999) menobatkannya menjadi salah seorang dari 20 pemimpin politik muda Asia pada milenium baru dan Man of The Year versi majalah Ummat (1998). Ia mendapat hadiah uang dari Yayasan The Right Livelihood Award sebesar Rp 500 juta. Separoh dari hadiah itu diberikan ke Kontras dan sebagian lagi dikirim kepada ibunya di Malang untuk renovasi rumah.

Sementara, kendati namanya sudah mendunia, Munir tetap hidup bersahaja. Direktur Eksekutif Lembaga Pemantau Hak Asasi Manusia Indonesia Imparsial (2004), ini tinggal di rumah sederhana dan ke mana-mana naik sepeda motor. Sekali waktu motornya pernah dicuri. Padahal ia pun sering mendapat ancaman. Saat membongkar kasus pembunuhan aktivis buruh Marsinah, ia pun diancam akan dijadikan sosis oleh orang yang mengaku aparat keamanan. Begitu pula ketika dia membongkar kasus penculikan aktivis mahasiswa pada akhir kekuasaan Soeharto. Bahkan rumah ibunya pun (Ny Jamilah, 78) pernah diancam bom. Dia juga pernah diisukan anak Gerwani oleh sebuah majalah. Majalah itu kemudian minta maaf.

Munir merupakan anak keenam dari tujuh bersaudara. Di kalangan keluarga, teman dekat dan tetangganya, dia dikenal sebagai orang yang memiliki kepedulian sosial. “Sejak mengenyam pendidikan di SD Muhammadiyah di kota kelahirannya dia terlihat suka menolong orang lain,” ungkap Ali Ahmad, salah seorang keluarga almarhum kepada Jawa Pos.

Minur meninggal seorang istri, Suciwati, dan dua orang anak, Sultan Alif Allende (5) dan Diva (2). Menurut penuturan isterinya, tak ada satu pun firasat yang dirasakan sebelum kepergian Munir yang begitu mendadak ini. Pertemuan mereka terakhir terjadi Senin malam 6 September 2004, tatkala mereka melepas Munir terbang ke Belanda dengan pesawat Garuda.

Mereka tiba di bandara sekitar satu setengah jam sebelum pesawat take off. Di bandara, teman-teman Munir dari Imparsial sudah ada yang ikut menunggu. Saat itu, Munir memang tampak berat berpisah dengan keluarganya. Meski, rencananya, isteri dan anaknya akan menyusul beberapa bulan kemudian. Isterinya sangat terkejut, ketika Usman Hamid (koordinator Kontras) memberitahukan meninggalnya Munir.

Belum diketahui pasti apa penyakit yang menyebabkan kematian Munir. Dalam general check up yang dilakukan sebelum Munir berangkat ke Belanda, sebagai salah satu prasyarat yang harus disertakan, kondisi kesehatannya dinyatakan baik-baik saja. Menurut Suciwati, setahun lalu, Munir memang sempat di rawat di RS Saint Carolus. “Saat itu, dokter berpesan supaya suami saya itu tidak terlalu lelah. Kalau bisa, dalam sebulan, istilahnya liburnya seminggu,” kata Suciwati.

Memang semakin mendekati hari keberangkatannya ke Belanda, Munir terlihat sibuk ke sana-kemari untuk menghadiri dengan berbagai acara dan persiapan. Misalnya, pada Selasa ada pesta perpisahan yang dilakukan Kontras. Lalu, pada Jumatnya, 3 September 2004, Munir menghadiri acara makan siang bersama di Kantor Imparsial di Jalan Diponegoro, Jakarta. Sore harinya masih ada acara "perpisahan" yang diadakan Propatria di Hotel Santika, Jakarta. Tapi, kondisi Munir saat itu tampak baik-baik.

Dalam acara itu Munir banyak menyampaikan harapan bahwa dia akan mengambil program doktor sekaligus, meskipun beasiswa yang diperolehnya hanya untuk program master di Universitas Utrecht. tsl

Sumber: TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)


Pekerjaan Utama:
Direktur Eksekutif Lembaga Pemantau Hak Asasi Manusia Indonesia Imparsia

Nama:
Munir, SH
Lahir:
Malang, Jawa Timur, 8 Desember 1965
Meninggal:
Amesterdam, 7 September 2004
Agama:
Islam
Isteri:
Suciwati
Anak:
Soultan Alif Allend (12 Oktober 1998)
Diva (2 tahun)
Ibu:
Ny Jamilah
Jabatan Terakhir:
Direktur Eksekutif Lembaga Pemantau Hak Asasi Manusia Indonesia Imparsial
Pendidikan:
S1 Fakultas Hukum Universitas Brawijaya, Malang, 1990
Karir:

* Karyawan perusahaan persewaan sound system dan penjualan alat elektronik
* Sukarelawan LBH Surabaya (1989)
* Ketua LBH Surabaya Pos Malang (1991)
* Koordinator Divisi Pembunuhan dan Divisi Hak Sipil Politik LBH Surabaya (1992-1993)
* Kepala Bidang Operasional LBH Surabaya (1993-1995)
* Direktur LBH Semarang (1996)
* Sekretaris Bidang Operasional YLBHI (1996)
* Wakil Ketua Bidang Operasional YLBHI (1997)
* Wakil Ketua Dewan Pengurus YLBHI (1998)
* Koordinator Badan Pekerja Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) (16 April 1998-2001)
* Ketua Dewan Pengurus Kontras (2001)
* Direktur Eksekutif Lembaga Pemantau Hak Asasi Manusia Indonesia Imparsial (2004)

Organisasi:

* Sekretaris Al-Irsyad Kebupaten Malang (1998)
* Sekretaris Badan Perwakilan Mahasiswa FH Universitas Brawijaya (1988)
* Ketua Senat Mahasiswa FH Universitas Brawijaya (1989)
* Anggota HMI
* Divisi Legal Komite Solidaritas untuk Marsinah
* Sekretaris Tim Pencari Fakta Forum Indonesia Damai

Penghargaan:

* Satu orang dari 20 pemimpin politik muda Asia pada milenium baru oleh Majalah Asiaweek (Oktober 1999)
* Right Livelihood Award 2000 di Swedia (Pengabdian di bidang HAM dan kontrol terhadap militer di Indonesia (8 Desember 2000)
* Man of The Year versi majalah Ummat (1998)

Alamat Rumah:
Jalan Cendana XII No.12, Jakasampurna Permai, Bekasi Barat
Alamat Kantor:
Kontras: Jalan Borobudur No.14, Jakarta Pusat
YLBHI: Jalan Diponegoro No.74, Jakarta Pusat

[+/-] Selengkapnya...

30 November 2011

Biar gampang masuknya

Kalau susah masuk karena lemes,,,

Jilatin dulu ujungnya,,,

Kalau uda tegang baru diarahkan kelubang,,,

Sesudah itu ?,,,

Agak didorong dikit supaya mudah masuknya,,,
lalu,,,,,,,,,,

Kalau sudah masuk...... ditarik,,,

Nah,,, selamat belajar menjahit...

[+/-] Selengkapnya...